Kamis, 21 April 2011

askep pada pasien atelektasis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Gangguan pada system pernapasan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kelainan paru bawaan atau congenital, infeksi pada saluran pernapasan sering terjadi dibandingkan dengan infeksi pada system organ tubuh lain.
Meskipun atelektasis sebenarnya bukan merupakan penyakit, tetapi ada kaitannya dengan penyakit parenkim paru. Atelektasis adalah istilah yang berarti “pengembangan paru-paru yang tidak sempurna” dan menerangkan arti bahwa alveolus pada bagian paru-paru yang terserang tidak mengandung udara dan kollaps. Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara( bronkus maupun bronkeolus ) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru. Kolaps ini dapat meliputi subsegmen paru atau seluruh paru. Atelektasis dapat terjadi pada wanita atau pria dan dapat terjadi pada semua ras. Atelektasis lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda daripada anak yang lebih tua dan remaja.
Stenosis dengan penyumbatan efektif dari suatu bronkus lobar mengakibatkan atelektasis (atau kolaps) dari suatu lobus, dan radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Secara patologik, hampir selalu ada pula kelainan-kelainan lain di samping tidak adanya udara daripada lobus dan posisi yang disebabkannya daripada dinding-dinding alveolar dan bronkhiolar.
Pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan khusus lainnya seperti bronkoskopi dan bronkografi, dapat menentukan atau menegakkan diagnosis dari atelektasis.
Dari uraian di atas maka penulis mencoba mengangkat masalah tentang Atelektasis.



1.2.      Tujuan
1.2.1.   Tujuan Umun
Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Atelektasis.
1.2.2.   Tujuan Khusus
1.     Mengetahui kosep dasar teoritis penyakit Atelektasis..
2.     Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan Atelektasis, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi.
3.     Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Atelektasis, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.




1.3.     Manfaat        
1.     Dalam pembuatan makalah ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Atelektasis.
2.     Menambah pengetahuan dan wawasan bagi semua pembaca tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Atelektasis.






BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. Konsep dasar teori
2.1.1. Pengertian
Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang mengalami hambatan berkembang secara sempurna sehingga aerasi berkurang atau sama sekali tidak berisi udara. Hilangnya volume paru secara parsial ataupun komplit dapat diartikan sebagai kolaps atau atelektasis.
Akhir-akhir ini kolaps atau atelektasis telah menjadi sinonim dan kedua hal tersebut diartikan sebagai berkurangnya volume udara di dalam paru dan berkaitan dengan menurunnya volume paru. Hal ini bertolak belakang dengan konsolidasi yang berarti berkurangnya udara di paru namun volume paru tetap normal. Ada beberapa mekanisme yang berbeda yang dapat menyebabkan paru menjadi kolaps.
Meskipun atelektasis bukan merupakan penyakit, tetapi ada  kaitanya dengan penyakit parenkim paru. Atelektasis adalah istilah yang berarti pengembangan paru yang tidak sempurna dan menyiratkan arti bahwa alveolus pada bagian paru yang terserang tidak mengandung udara dan kolaps.
Menurut kamus kedokteran (Ed, 2005), atelektasis adalah pengembangan paru-paru secara tak sempurna pada bayi baru lahir. Meskipun atelektasis sebenarnya bukan merupakan penyakit,tetapi ada kaitannya dengan penyakit parenkim paru.
Menurut kamus keperawatan (Ed.17,penerbit buku kedokteran, EGC) atelektasis adalah sejumlah alveoli paru tidak mengandung udara akibat kegagalan ekspansi (atelektasis kongenital) atau kegagalan resorpsi udara dari alveoli (collapse).
Atelektasis adalah suatu kondisi di mana paru-paru tidak dapat mengembang secara sempurna (Somantri, 2008).
Atelektasis adalah suatu kondisi di mana paru-paru tidak dapat mengembang secara sempurna (somantri, 2008).
Atelektasis adalah istilah yang berarti pengembangan paru yang tidak sempurna dan menyiratkan arti bahwa alveolus pada bagian paru yang terserang tidak mengandung udara dan kolaps. (Keperawatan Medikal Bedah,vol.2,penerbit buku kedokteran.EGC.2002).
Jadi, atelektasis merupakan suatu keadaan kolaps, dimana paru-paru tidak dapat mengembang secara sempurna, tepatnya pada alveolus/alveoli paru yang tidak mengandung udara.

2.1.2        Etiologi
Sebab utama dari atelektasis adalah penyumbatan sebuah bronkus. Penyumbatan juga bisa terjadi pada saluran pernafasan yang lebih kecil. Penyumbatan bisa disebabkan oleh adanya gumpalan lendir, tumor atau benda asing yang terhisap ke dalam bronkus. Atau bronkus bisa tersumbat oleh sesuatu yang menekan dari luar, seperti tumor atau pembesaran kelenjar getah bening.
Jika saluran pernafasan tersumbat, udara di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli akan menciut dan memadat. Jaringan paru-paru yang mengkerut biasanya terisi dengan sel darah, serum, lendir, dan kemudian akan mengalami infeksi.
Atelektasis merupakan suatu akibat dari kelainan paru yang dapat disebabkan:
a.       Bronkus tersumbat
             penyumbatan bisa berasal didalam bronkus (tumor bronkus, benda asing, cairan sekresi yang massif) dan penyumbatan bronkus akibat penengkanan dari luar bronkus akibat penengkanan dari luar bronkus (tumor sekitar bronkus, kelenjar membesar).

b.      Tekanan ekstrapulmoner
Biasanya disebabkan oleh pneumothoraks, cairan pleura, peninggian diafragma, herniasi alat perut kedalam rongga thoraks, dan tumor intra thoraks tepe ekstrapulmuner (tumor mediastinum).
c.       Paralisis atau paresis gerak pernapasan,
akan menyebabkan perkembangan paru yang tidak sempurna, misalnya pada kasus poliomiolitis dan kelainan neurologic lainya. Gerak nafas yang tergangu akan mempengaruhi kelancangan pengeluaran secret bronkus dan ini menyebabkan penyumbatan bronkus yang berakhir dengan  memperberat keadaan atelektasis.

d.      Hambatan gerak pernapasan
kelainan pleura atau trauma toraks yang menahan rasa sakit. Keadaan ini juga akan menghambat pengeluaran secret bronkus yang dapat memperhebat terjadinya atelektasis.

Atelektasis seharusnya dapat dibedakan dengan pneumothoraks. Walaupun kolaps alveolar terdapat pada kedua keadaan tersebut, penyebab kolapsnya dapat dibedakan dengan jelas. Atelektasis timbul karna alveoli menjadi kurang berkembang atau tidak berkembang, sedangkan pneumothoraks timbul karena udara masuk kedalam rongga pleura. Pada kebanyakan pasien, pneumothoraks tidak dapat dicegah dengan perawatan yang tepat .

2.1.3. Klasifikasi atelektasis
            Atelektasis dibagi menjadi 2 yaitu :
a.       Atelektasis Absorpsi
b.      Atelektasis Kompresi


2.1.4. Patofisiologi
Pada atelektasis absorpsi, obstruksi saluran napas menghambat masuknya udara ke dalam alveolus yang terletak distal terhadap sumbatan. Udara yang sudah terdapat dalam alveolus tersebut diabsorpsi sedikit demi sedikit ke dalam aliran darah dan alveolus kolaps. Untuk mengembangkan alveolus yang kolaps total diperlukan tekanan udara yang lebih besar, seperti halnya seseorang harus meniup balon lebih keras pada waktu mulai mengembangkan balon.
Atelektasis absorpsi dapat disebabkan oleh obstruksi bronkus intrinsik atau ekstrinsik. Obstruksi bronkus intrinsik paling sering disebabkan oleh secret atau eksudat yang tertahan. Tekanan ekstrinsik pada bronkus biasanya disebabkan oleh neoplasma, pembesaran kelenjar getah benih, aneurisma atau jaringan parut.
Mekanisme pertahanan fisiologik yang bekerja mempertahankan sterilitas saluran nafas bagian bawah bertindak mencegah atelektasis dengan menghalangi terjadinya obstruksi. Mekanisme-mekanisme yang beperan adalah kerja gabungan dari “tangga berjalan silia” yang dibantu oleh batuk untuk memindahkan partikel-partikel dan bakteri yang berbahaya ke dalam faring posterior, tempat partikel dan bakteri tersebut ditelan atau dikeluarkan.
 Mekanisme lain yang bertujuan mencegah atelektasis adalah ventilasi kolateral. Hanya inspirasi dalam saja yang efektif untuk membuka pori-pori Kohn dan menimbulkan ventilasi kolateral ke dalam alveolus disebelahnya yang mengalami penyumbatan. Dengan demikian kolaps akibat absorpsi gas-gas dalam alveolus yang tersumbat dapat dicegah (dalam keadaan normal absorpsi gas ke dalam darah lebih mudah karena tekanan parsial total gas-gas darah sedikit lebih rendah daripada tekanan atmosfer akibat lebih banyaknya O2 yang diabsorpsi ke dalam jaringan daripada CO2 yang diekskresikan).
 Selama ekspirasi, pori-pori Kohn menutup, akibatnya tekanan di dalam alveolus yang tersumbat meningkat, sehingga membantu pengeluaran sumbat mucus. Bahkan dapat dihasilkan gaya ekspirasi yang lebih besar, yaitu sesudah bernafas dalam, glotis tertutup dan kemudian terbuka tiba-tiba seperti pada proses batuk normal. Sebaliknya pori-pori Kohn tetap tertutup sewaktu inspirasi dangkal; sehingga tidak ada ventilasi kolateral menuju alveolus yang tersumbat; dan tekanan yang memadai untuk mengeluarkan sumbat mucus tidak akan tercapai. Absorpsi gas-gas alveolus ke dalam aliran darah berlangsung terus, dan mengakibatkan kolaps alveolus. Dengan keluarnya gas dari alveolus, maka tempat yang kosong itu sedikit demi sedikit akan terisi cairan edema.
Atelektasis pada dasar paru sering kali muncul pada mereka yang pernapasannya dangkal karena nyeri, lemah atau peregangan abdominal. Sekret yang tertahan dapat mengakibatkan pneumonia dan atelektasis yang lebih luas. Atelektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantina jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis. Untuk dapat melakukan tindakan pencegahan yang memadai diperlukan pengenalan terhadap faktor-faktor yang mengganggu mekanisme pertahanan paru normal.
Atelektasis tekanan diakibatkan oleh tekanan ekstrinsik pada semua bagian paru atau bagian dari paru, sehingga mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps. Sebab-sebab yang paling sering adalah efusi pleura, pneumothoraks, atau peregangan abdominal yang mendorong diafragma ke atas. Atelektasis tekanan lebih jarang terjadi dibandingkan dengan atelektasis absorpsi.
Hilangnya surfaktan dari rongga udara terminal menyebabkan kegagalan paru untuk mengembang secara menyeluruh dan disebut sebagai mikroatelektasis. Hilangnya surfaktan merupakan keadaan yang penting baik pada sindrom distress pernapasan akut (ARDS) dewasa maupun bayi.
Atelektasis dapat terjadi pada satu tempat yang terlokalisir di paru, pada seluruh lobus atau pada seluruh paru. Penyebab yang palig sering adalah:
Atelektasis biasanya merupakan akibat dari sumbatan bronki kecil oleh mucus atau sumbatan bronkus besar oleh gumpalan mucus yang besar atau benda padat seperti kanker. Udara yang terperangkap di belakang sumbatan diserap dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam. Oleh darah yang mengalir dalam kapiler paru. Jika jaringan paru cukup lentur (pliable), alveoli akan menjadi kolaps.
Tetapi, jika paru bersikap kaku akibat jaringan fibrotik dan tidak dapat kolaps, maka absorpsi udara dari alveoli menimbulkan tekanan negatif yang hebat dalam alveoli dan mendorong cairan keluar dari kapiler paru masuk ke dalam alveoli, dengan demikian menyebabkan alveoli terisi penuh dengan cairan edema. Ini merupakan efek yang paling sering terjadi bila seluruh paru mengalami atelektasis, suatu keadaan yang disebut kolaps masif dari paru, karena kepadatan dinding dada dan mediastinum memungkinkan ukuran paru berkurang hanya kira-kira separuh dari normal, dan tidak mengalami kolaps sempurna.
Efek terhadap fungsi paru seluruhnya disebabkan oleh kolaps masif (atelektasis) pada suatu paru dilukiskan pada gambar dibawah ini. Kolaps jaringan paru tidak hanya menyumbat alveoli tapi hampir selalu juga meningkatkan tahanan aliran darah yang melalui pembuluh darah paru. Meningkatan tahanan ini sebagian tejadi karena kolaps itu sendiri, yang menekan dan melipat pembuluh darah sehingga volume paru berkurang. Selain itu, hipoksia pada alveoli yang kolaps menyebabkan vasokonstriksi bertambah.
Akibat vasokonstriksi pembuluh darah, maka aliran darah yang melalui paru atelektasis menjadi sedikit kebanyakan darah mengalir melalui paru yang terventilasi sehingga tejadi aerasi dengan baik. Pada keadaan diatas lima per enam darah mengalir melalui paru yang teraerasi dan hanya satu per-enam melalui paru yang tidak teraerasi. Sebagai akibatnya, rasio ventilasi/perkusi seluruhnya hanya sedang saja, sehingga darah aorta hanya mempunyai sedikit oksigen yang tidak tersaturasi walaupun terjadi kehilangan ventilasi total pada satu paru.
Sekresi dan fungsi surfaktan dihasilkan oleh sel-sel epitel alveolus spesifik ke dalam cairan yang melapisi alveoli. Zat ini menurunkan tegangan permukaan pada alveoli 2 sampai 10 kali lipat, yang memegang peranan penting dalam mencegah kolapsnya alveolus.
Tetapi, pada berbagai keadaan, seperti penyakit membrane hialine (juga disebut sindrom gawat napas), yang sering terjadi pada bayi-bayi premature yang baru lahir, jumlah surfaktan yang disekresikan oleh alveoli sangat kurang. akibatnya tegangan permukaan cairan alveolus meningkat sangat tinggi sehingga menyebabkan paru bayi cenderung mengempis, atau menjadi terisi cairan, kebanyakan bayi ini mati lemas karena bagian paru yang atelektasis menjadi semakin luas.
.
Pada atelektasis tekanan diakibatkan oleh tekanan ekstrinsik pada semua bagian paru atau bagian dari paru, sehingga mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolpas. Sebab-sebab yang paling sering adalah efusi pleura, pneumotoraks, atau peregangan abdominal yang mendorong diapragma keatas. Atelektasis tekanan lebih jarang terjadi di bandingkan dengan atelektasis absorbsi.
Berbeda dengan atelektasis absorpsi, pada atelektasis kompresi (tekanan) terjadi akibat adanya tekanan ekstrinsik pada bagian paru, sehingga mendorong udara keluar dan menyebabkan bagian tersebut kolaps. Tekanan ini biasa terjadi akibat efusi pleura, pneumotoraks atau peregangan abdominal yang mendorong diafragma ke atas.


2.1.5 WOC

Sekret tertahan
Penyumbatan bronkus

Alveoili menciut/memadat





















2.1.6 Manifestasi klinik                                                                                                      
Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak nafas yang ringan.
Gejalanya bisa berupa :
·         gangguan pernafasan
·         nyeri dada
·         batuk
Jika disertai infeksi, bisa terjadi demam dan peningkatan denyut jantung, kadang-kadang sampai terjadi syok (tekanan darah sangat rendah).
Manifestasi klinis sangat bervariasi, tergantung pada sebab dan luasnya atelektasis.
Pada umumnya atelektasis yang terjadi pada penyakit tuberculosis, limfoma, neoplasma, asma dan penyakit yang disebabkan infeksi misalnya bronchitis, bronkopmeumonia, dan lain-lain jarang menimbulkan gejala klinis yang jelas, kecuali jika ada obstruksi pada bronkus utama.
Jika daerah atelektsis itu luas dan terjadi sangat cepat akan terjadi :
·         dipsneu dengan pola pernapasan yang cepat dan dangkal,
·         takikardi dan sering sianosis,
·         napas tertinggal,
·         temperatur yang tinggi, dan
·          jika berlanjut akan menyebabkan penurunan kesadaran atau syok.
Pada palpasi didapatkan fremitus vokal melemah sampai menghilang. Pada perkusi pekak dan mungkin pula normal bila terjadi emfisema kompensasi, batas jantung dan mediastinum bergerak ke lateral/bergeser ke sisi yang sakit, dan letak diafragma meninggi.
Pada atelektasis yang luas, atelektasis yang melibatkan lebih dari satu lobus
·         suara napas menurun,
·         bising nafas akan melemah atau sama sekali tidak terdengar,
·         biasanya didapatkan adanya perbedaan gerak dinding thoraks, gerak sela iga dan diafragma.
Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak nafas yang ringan.Penderita sindroma lobus medialis mungkin tidak mengalami gejala sama sekali, walaupun banyak yang menderita batuk-batuk pendek.
Jika disertai infeksi, bisa terjadi :
·          demam dan peningkatan denyut jantung,
·          kadang-kadang sampai terjadi syok (tekanan darah sangat rendah).

2.1.7        Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan diagnostik

a.       Radiologi Konvensional

Pemeriksaan rontgen thoraks adakalanya dapat memberikan petunjuk untuk mendiagnosis atelektasis. Bentuk-bentuk kolaps pada atelektasis secara klinis dan radiologi, sebagai berikut:
1.      Kolaps paru menyeluruh
a.       Opasifikasi hemithoraks
b.      Pergeseran mediastinum ke sisi yang terkena
c.       Diafragma terangkat

2.      Kolaps lobus kanan atas
a.       Fisura horizontal normal terletak pada anterior kanan iga ke empat
b.      Pada kolaps yang parah, lobus menjadi datar berlawanan dengan mediastinum posterior.
                                                                             
3.      Kolaps lobus tengah kanan
a.       Sumbatan pada perbatasan jantung kanan sering tampak
b.      Proyeksi Lordotik AP memperlihatkan pergeseran fisura.

4.      Kolaps lobus bawah
a.       Opasitas terlihat pada proyeksi frontal
b.      Gambaran wedge-shaped shadows
c.       Hilus tertekan dan terputar ke medial.

5.      Kolaps lingula
a.       Gambaran radiologi mirip dengan gambaran kolaps lobus tengah kanan
b.      Proyeksi frontal perbatasan jantung kiri menjadi kabur.

6.      Kolaps lobus kiri atas
a.       Terlihat jelas pada proyeksi frontal
b.      Pergeseran anterior di seluruh celah obliq, hampir sejajar pada dinding dada anterior
c.       Opasitas kabur terlihat di bagian atas, tengah dan kadang-kadang pada daerah bawah
d.      Opasitas yang paling padat di dekat hilus
e.       Elevasi hilus
f.       Trakea sering menyimpang ke kiri


b.      Computed Tomography Scan (CT-SCAN)

1.      Kolaps lobus bawah
·         Adanya campuran densitas pada paru yang mengalami kolaps diakibatkan bronkus berisi cair

2.      Kolaps lobus kiri atas
a.       Opasitas kabur terlihat dibagian atas, tengah dan kadang-kadang pada daerah bawah
b.      Opasitas yang paling padat di dekat hilus
c.       Kadang seperti nodus limfatik yang mengalami klasifika

3.      Kolaps paru menyeluruh
a.       Opasifikasi hemithoraks
b.      Adanya herniasi di kedua paru retrosternal dan refleksi azygo-esofagus. Esophagus berisi sedikit udara
2.      Pemeriksaan laboratorium

Analisa Gas darah :      Po2      : 35 mmHg
                                       Pco2   : 49 mmHg
                              : leukosit banyak di dalam sputum
Pemeriksaan Sputum : BTA ( + )

































2.1.8    Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan dahak dari paru-paru dan kembali mengembangkan jaringan paru yang terkena.
Tindakan yang biasa dilakukan :
a.       Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang
b.      Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya
c.       Latihan menarik nafas dalam ( spirometri insentif )
d.      Perkusi (menepuk-nepuk) dada untuk mengencerkan dahak
e.       Postural drainase
f.       Antibiotik diberikan untuk semua infeksi
g.      Pengobatan tumor atau keadaan lainnya
h.      Pada kasus tertentu, jika infeksinya bersifat menetap atau berulang, menyulitkan atau menyebabkan perdarahan, maka biasanya bagian paru-paru yang terkena mungkin perlu diangkat.
Setelah penyumbatan dihilangkan, secara bertahap biasanya paru-paru yang mengempis akan kembali mengembang, dengan atau tanpa pembentukan jaringan parut ataupun kerusakan lainnya.
Penatalaksaan Atelektasis meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut:
1.      Medis
·         Pemeriksaan bronkoskopi
·          Pemberian oksigenasi
·         Pemberian terapi simtomatis (anti sesak, bronkodilator, antibiotik dan kortikosteroid)
·          Fisioterafi (masase atau latihan pernapasan)
·          Pemeriksaan bakteriologis

2. Keperawatan
·         Teknik batuk efektif
·          Pegaturan posisi secara teratur
·         Melakukan postural drainase dan perkusi dada
·         Melakukan pengawasan pemberian medikasi secara teratur

2.1.9        KOMPLIKASI
Pada pasien yang mengalami atelektasis maka akan terjadi :
1.      Pneumothoraks
Pneumothoraks adalah adanya udara dalam rongga pleura di mana masukan udara ke dalam rongga pleura, dapat dibedakan menjadi pneumothorak spontan, udara lingkungan keluar masuk ke dalam rongga pleura melalui luka tusuk, misalnya udara melalui mediastinum yang disebabkan oleh trauma.
2.      Efusi pleura

Atelektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis dan juga atelektasis dapat menyebabkan pirau (jalan pengalihan) intrapulmonal (perfusi ventilasi) dan bila meluas, dapat menyebabkan hipoksemia.


2.2.1.   Konsep Dasar Askep
2.2.1.1. Pengkajian teoritis
1.      Indentitas klien
(nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk RS, no register dan diagnosis medis).
2.      Keluhan utama
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas
3.      Riwayat Kesehatan Sekarang
4.      Riwayat Kesehatan Dahulu
5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
6.      Data Dasar pengkajian
2.2.1.2  Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret ( bronkospasme ), lemah, penurunan energi.
b.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus
c.       Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, risiko tinggi terhadap anoreksia yang berhubungan dengan muntahan dan bau.





2.2.1.3  Rencana Asuhan Keperawatan
Nama klien                  : Tn. H
Ruang Rawat              : Kemuning
Diagnosa medic          : Atelektasis

no
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Keriteria hasil
Intervensi
Rasional






















2





























3
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret ( bronkospasme ), lemah, penurunan energi.


Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.
















Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, risiko tinggi terhadap anoreksia yang berhubungan dengan muntahan dan bau.










·         Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan jalan nafas paten/ kembali efektik, dahak dapat dikeluarkan dan tidak sulit dalam bernafas

·         Setelah di lakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan pertukaran gas atau oksigenasi ade kuat, tidak ada lagi obtruksi jalan nafas







·         Setelah di lakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi / intake ade kuat.








·         Jalan nafas bebas atau dahak dapat dikeluarkan .
·         Dispnea dan takipnea tidak ada.
·         Kesulitan bernapas tidak ada.
·         Penggunaan otot bantu pernapasan tidak ada.
·         TTV DBN:
TD:120-130/80-85mmHg
ND;60-100x/i
RR:16-24x/i

·         Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan/situasi
·         Dispnea & takipnea tidak ada.
·         Kesulitan bernafas tidak ada.
·         Gelisah tidak ada.
·         TTV DBN :
TD : 120-130/80-85 mmHg
ND : 80-100 x /i
RR :16-24 x/i
·         Hb : 14 -18 dr/dL


·         Menunjukkan peningkatan nafsu makan
·         Mempertahankan/meningkatkan berat badan.
·         Klien tidak mual lagi.
·         BB stabil /tidak turun atau naik.
·         Klien dapat menghabiskan ¾ - 1 porsi makan yang di berikan.
·         Mukosa bibir lembab.
·         Nilai lab DBN :
Hb : 14-18 gr/dL
Albumin : 3,5-5,5 gr/dL
Protein total : 6,0-8,0 gr/dL




·         Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang



·         Perkusi (menepuk-nepuk) dada





·         Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya



















·        Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan




·        Auskultasi bunyi usus. Observasi/ palpasi distensi abdomen.
























·        Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering atau makanan yang nenarik untuk pasien.



·         Berbaring pada posisi yang sehat akan akan menciptakan kenyamanan pasien


·         Perkusi akan mengencerkan dahak



·         Melaui bronkoscopy akan bisa melihat penyumatan ( obstruksi jalan nafas

















·         Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini.




·        Bunyi usus mungkin menurun/ tak ada bila proses infeksi berat/ memanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI.

·        Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.




BAB III
TINJAUAN  KASUS

3.1 Pengkajian
Format Pengkajian
1.      Data Biografi
Identitas Klien:
Nama                                 : Tuan H
Umur                                 : 51 th
Suku/bangsa                      : Rejang
Status Perkawinan                        : kawin
Agama                               : Islam
Pendidikan                                    : SD
Pekerjaan                           : Petani
Alamat                              : Jl.Padang harapan
Tanggal masuk RS            : 02 April 2011
Tanggal Pengkajian           : 04 April 2011
Catatan kedatangan          : kursi roda (  ), Ambulan (  ), Brankar (  √ )

Keluarga Terdekat yang dapat dihubungi :
Nama/Umur          : Tn E/ 30                       No Telepon : (0736) 46833
Pendidikan                        : S1
Pekerjaan               : PNS
Alamat                  : Jl lingkar barat

Sumber Informasi : Pasien, keluarga.

2.      Riwayat Kesehatan/keperawatan
1)      Keluhan utama/alasan masuk RS:
 Tn H datang ke RS pada tanggal 02 April 2011 dengan keluhan utama  nyeri dan sesak nafas.

2)      Riwayat kesehatan sekarang:
Faktor pencetus:
Pasien mengatakan bahwa sesak nafas karena penyumbatan bronkus.
Sifat keluhan (mendadak/pelahan-lahan/terus-menerus/hilang timbul atau berhubungan dengan waktu) :
Sifat keluhan hilang timbul

Lokalisasi dan sifatnya (menjalar/menyebar/berpindah-pindah/menetap):
 lokasi nyeri pada bagian hidung dan menetap

Berat ringannya keluhan (menetap/cenderung bertambah atau berkurang) :
 Nyeri yang timbul bersifat menetap.

Lamanya Keluhan:
Nyeri dirasakan 3 hari sebelum masuk RS.

Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi :
pasien beristirahat dan mengkonsumsi obat anti nyeri.

Keluhan saat pengkajian:
 Nyeri yang dirasakan Tn H hilang timbul

Diagnosa medik  :
Obstruksi saluran napas ( polip hidung )
Tanggal: 03 April 2011
TBC
Tanggal : 03 April 2011
3)      Riwayat kesehatan dahulu

Penyakit yang pernah dialami (jenis penyakit, lama dan upaya untuk mengatasi, riwayat masuk RS): ATELEKTASIS dialami pasien dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Upaya yang dilakukan pasien dengan mengkonsumsi obat menghilang nyeri dengan Salbutamol dosis 12,5 Mg.

Alergi : Pasien alergi terhadap antibiotik penisilin.

Obat-obatan (Resep/obat bebas)
Dosis
Dosis Terakhir
Frekuensi
Salbutamol
12,5 mg
12,5 mg
3x sehari





4)      Riwayat Kesehatan keluarga :
Penyakit menular atau keturunan dalam keluarga:
Tidak ada.

3.      Pola Fungsi kesehatan
1)      Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Persepsi terhadap penyakit :
Pasien merasakan dengan penyakit yang ia alami menyebabkan hilangnya kenyamanan.

Penggunaan :
Tembakau (bungkus/hari, pipa, cerutu, berapa lama, kapan berhenti) :
Pasien adalah seorang perokok. Pasien biasanya merokok sebanyak 1 bungkus perhari. Pasien mulai merokok sejak umur 18 tahun. Pasien belum berniat untuk berhenti.
Alkohol (jenis, jumlah/hari/minggu/bulan):
Pasien mengkonsumsi alkohol jenis anggur merah, sebanyak 1 botol dalam seminggu.
Alergi (obat-obatan, makanan, plester, dll): pasien alergi terhadap antibiotik yaitu penisilin.
Reaksi alergi:
Gatal-gatal seluruh badan dan timbul ruam merah.
2)      Pola nutrisi dan metabolism
Diet/suplemen khusus: pasien biasa mengkonsumsi minuman berenergi seperti hemaviton, kartingdeng, extra joss.
Intruksi diet sebelumnya: belum ada intruksi diet sebelumnya.
Nafsu makan (nomal, meningkat, menurun): menurun
Penurunan sensasi kecap, mual-muntah, stomatitis : pasien mengalami stomatitis, mual dan muntah.
Fluktuasi BB 6 bulan terakhir (naik/turu) : BB pasien menurun sebanyak 5 kg (60 kg menjadi 55 kg).
Kesulitan menelan (disfagia): ada
Gigi (lenkap/tidak,gigi palsu): lengkap
Riwayat masalah kulit/penyembuhan (ruam,kering,keringat berlebihan, penyembuhan abnormal: tidak ada
Jumlah minimum/24 jam dan jenis (kehausan yang sangat): tidak ada
Frekuensi makan: menurun (2x sehari)
Jenis makanan: Karbohidrat, protein, lemak
Pantangan/alergi : pasien tidak boleh makan-makanan  yang berminyak seperti goreng-gorengan.
Lain-lain : -

3)      Pola Eliminasi
Buang air besar (BAB) :
Frekuensi         : 1x/hari                                               Waktu : pagi hari
                        Warna              : kuning                                               Konsistensi: lunak
                        Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : Tidak terdapat kesulitan
Buang air kecil (BAK) :
Frekuensi         : 4-6x/hari                    Warna  : kuning jernih
Kesulitan         : tidak ada
4)      Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri :
0 = Mandiri                            3 = Dibantu orang lain dan peralatan
1 = Dengan alat bantu          4 = Ketergantungan/ tidak mampu
2 = dibantu orang lain
Kegiatan / aktivitas
0
1
2
3
4
Makan/minum




Mandi




Berpakaian/ berdandan




Toileting




Mobilisasi di tempa tidur




Berpindah




Berjalan




Menaiki tangga




Berbelanja




Memasak




Pemeliharaan rumah




Alat bantu ( kruk, pispot, tongkat, kursi roda) : tidak ada
Kekuatan otot                                     : masih lemah
Kemampuam ROM                 : mampu
Keluhan saat beraktivitas        : nafas semakin sesak,
Lain-lain                                  : -
5)      Pola istirahat dan tidur
Lama tidur      : 6 jam/malam, 1-2 jam tidur siang     
Waktu             : 22.00-04.00 Wib
Kebiasan menjelang tidur : berwudhu
Masalah tidur ( insomnia, terbangun dini, mimpi buruk ) : terbangun dini
6)      Pola kognitif dan persepsi
Status mental : sadar, compos mentis
Bicara : normal  (√ ), tak jelas (  ), gagap (  ), aphasia ekspesif (  )
Kemampuan berkomunikasi     : ya (√ ), tidak (  )
Kemampuan memahami          : ya (√ ), tidak (  )
Tingkat ansietas : ringan (√ ), sedang (  ), berat (  ), panik (  )
Pendengaran   : DBN (√ ), tuli (  ),kanan/kiri, tinitus (  ), alat bantu dengar (  )
Penglihatan : DBN, buta, katarak, kacamata, lensa kontak, dll ) : kacamata
Vertigo : Tidak ada
Ketidaknyamanan/ nyeri (akut/kronik) : adanya ketidaknyama dan ada nyeri
i.        Penatalaksanaan nyeri : Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya

7)      Persepsi diri dan konsep diri
Perasan klien tentang masalah ini : klien mengatakan sesak nafas sangat dirasakan karena akibat penyakit atelektasis
8)      Pola peran dan hubungan
Pekerjaan : petani
Sistem pendukung : pasangan/istri
Serumah (√ ), tinggal berjauhan ( )
Masalah keluarga berkenaan dengan perawatan di RS : klien mengatakan mengalami kesulitan dengan masalah biaya berkenaan dengan perawatan di RS
Kegiatan sosial : klien masih bisa untuk datang menghadiri undangan tapi tidak bisa membantu aktivitas yang berat
9)      Pola sexual dan reproduksi
Tanggal menstruasi terakhir    : -
Masalah menstruasi                 : -
Pap Smear terakhir                   : -
Masalah sexual b/d penyakit   : -
Lain-lain                                   : -

10)  Pola koping dan toleransi stress
Perhatian utama tentang perawatan di RS atau penyakit (Finansial, perawatan diri) : baik, tetapi klien sedikit terpikir dengan masalah biaya perawatan
Kehilangan/ perubahan besar dimasa lalu : tidak ada
Hal yang dilakukan saat ada masalah ( sumber koping ) : musyawarah dengan istri dan keluarga
Penggunaan obat yang dilakukan untuk menghilangkan stress : tidak ada
Keadaan emosi dalam sehari-hari ( santai/ tegang ): santai
11)  Keyakinan dan kepercayaan
Agama : islam
Pengaruh agama dalam kehidupan : baik, pasien mengatakan agama adalah pedoman hidup pasien dan juga keluarga
4.      Pemerikasaan Fisik
a.       Keadaan umum :
Penampilan umum: Penampilan tidak baik, gaya bicara tidak terkoordinasi, bicara tidak jelas.
Klien tampak sehat/sakit/sakit berat: Klien tampak sakit berat.
Kesadaran       : Tidak komposmentis
BB                   : 55 Kg
TB                 : 167 Cm          
b.      Tanda-tanda vital :
TD                   : 100/80 mmHg
ND                  : 50/menit
RR                   : 14/menit
S                      : 36,5 °C

c.       Kulit
Warna kulit (sianosis,ikterus,pucat,eritema,dll) : Warna kulit pucat.
Kelembapan: Kering
Turgor kulit: Elastis
Ada/tidaknya oedema: Tidak ada

d.      Kepala/ rambut
Inspeksi           : Kepala simetris, warna rambut kusam, distribusi tidak merata, kurang bersih dan tidak berketombe.
Palpasi             : Textur tidak halus dan kering, tidak berminyak, tidak ada benjolan atau masa.

e.       Mata
Fungsi pengelihatan    : Baik, visus 6/6.
Ukuran pupil               : 2mm
Konjungtiva                : anemis
Lensa/iris                     : Lensa warna hitam, tidak ada kekeruhan lensa
Oedema palpebra        : tidak ada odema palpebra
Palpebra                      : Terbuka
Skelera                                    : Tidak ikterik
f.       Telinga
Fungsi pendengaran    : Baik
Kebersihan                  : bersih
Daun telinga                : simetris, elastis, lesi tidak ada, tidak ada tanda-tanda mastoiditis
Fungsi keseimbangan : baik
Secret                          : tidak ada
g.      Hidung dan sinus
Infeksi                         : Bentuk simetris, tidak ada deformitas
Fungsi penciuman       : baik, dapat membedakan bau
Pembengkakan            : tidak ada, polip tidak ada
Kebersihan                  : bersih
Perdarahan                  : tidak ada
Sekret                          : ada

h.      Mulut dan tenggorokan
Membrane mukosa      : Kering dan pucat
Keadaan gigi               : Lengkap
Tanda radang (bibir,gusi,lidah)           : tidak ada
Trismus                        : tidak ada kesulitan buka mulut.
Kesulitan menelan       : disfagia tidak ada

i.        Leher
Trakea(simetris/tidak) : Simetris saat dilakukan palpasi
Carotid bruid              : ada bunyi bruid
JVP                             : 5-2 cm H2O
Kelenjar limfe             : tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Kelenjar toroid            : tidak ada pembengkakan
Kaku kuduk                : tidak ada kaku kuduk dan kepala mpasien bias fleksi ke dada

j.        Thorak/paru
Inspeksi           :inspeksi dada tidak simetri, RR : 14x/menit, menggunakan otot Bantu pernafasan
Palpasi             : Fremitus Ka≠Ki, ekspansinparu tidak simetris
Perkusi            : resonan pada kedua lapang paru
Auskultasi       : vesikuler

k.      Jantung
Inspeksi           : ictus cordis tidak terlihat
Paspasi            : ictus cordis teraba 1 jari LMCS RIC ke5.
Perkusi            : batas atas jantung RIC ke2
-          batas kanan     : linea sternalis dextra
-          batas kiri          : 1 jari linea mid clavikula sinistra
-          batas bawah    : 1 jari LMCS RIC ke5
Auskultasi       : S1 dan S2 terdengar jelas, tidak ada bunyi tambahan S3ndan S4, murmur dan gallop tidak ada
l.        Abdomen
Inspeksi           : Simetris, jaringan parut tidak ada, vena tidak menonjol, asites tidak ada
Auskultasi       : B.U, 12x/i
Perkusi            : Tympani
Palpasi             : hepar dan limfa tidak teraba, tidak ada pembesaran hepar dan limfa

m.    Genitalia    : bersih, tanda-tanda radang tidak ada. Lesi tidak ada

n.      Rectal        : haemoroid tidak ada, lesi atau kemerahan tidak ada, massa tidak ada

o.      Ekstrimitas
Ekstrimitas atas           : akral hangat, oedema tidak ada, genggaman tangan kuat
Ekstrimitas bawah       : Akral hangat, oedema tidak ada, kekuatan penuh
ROM                           : gerakan aktif tanpa dibantu
Kekuatan otot             : otot lemah

p.      Vascular perifer
Capilari refille             : tidak normal
Clubbing                     : tidak menonjol
Perubahan warna(kuku,kulit,bibir)      : kilit sedikit pucat

q.      Neurologis
Kesadaran(GCS)         :
Status mental              : compos mentis/15
Motorik                       : normal; gerak menurut perintah
Sensorik                      : normal, percakapan adekuat
Tanda rangsangan meningeal              : -
Saraf ransangan meningea                  l: normal
Saraf cranial                : normal
Refleks fisiologis        : baik, ekstremitas semua bias digerakkan
Refleks patologis        : -













3.2    Analisis data

Nama klien                  : Tn. H
Ruang Rawat              : Kemuning
Diagnosa medic          : Atelektasis
No
Data
Etologi
Masalah
1





























3.2  Diagnosa keperawatan yang muncul
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret ( bronkospasme ), lemah, penurunan energi.
b.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus
c.       Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, risiko tinggi terhadap anoreksia yang berhubungan dengan muntahan dan bau.



3.3  Rencana Asuhan keperawatan

Nama klien                  : Tn. H
Ruang Rawat              : Kemuning
Diagnosa medic          : Atelektasis
no
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Keriteria hasil
Intervensi
Rasional
1



































2














3














Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret ( bronkospasme ), lemah, penurunan energi.







Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.















Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, risiko tinggi terhadap anoreksia yang berhubungan dengan muntahan dan bau.










·         Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan jalan nafas paten/ kembali efektif, dahak dapat dikeluarkan dan tidak sulit dalam bernafas


·         Setelah di lakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan pertukaran gas atau oksigenasi ade kuat, tidak ada lagi obtruksi jalan nafas





·         Setelah di lakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi / intake ade kuat.








·         Jalan nafas bebas atau dahak dapat dikeluarkan .
·         Dispnea dan takipnea tidak ada.
·         Kesulitan bernapas tidak ada.
·         Penggunaan otot bantu pernapasan tidak ada.
·         TTV DBN:
TD:120-130/80-85mmHg
ND;60-100x/i
RR:16-24x/i



·         Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan/situasi
·         Dispnea & takipnea tidak ada.
·         Kesulitan bernafas tidak ada.
·         Gelisah tidak ada.
·         TTV DBN :
TD : 120-130/80-85 mmHg
ND : 80-100 x /i
RR :16-24 x/i
·         Hb : 14 -18 dr/dL.

·         Menunjukkan peningkatan nafsu makan
·         Mempertahankan/meningkatkan berat badan.
·         Klien tidak mual lagi.
·         BB stabil /tidak turun atau naik.
·         Klien dapat menghabiskan ¾ - 1 porsi makan yang di berikan.
·         Mukosa bibir lembab.
·         Nilai lab DBN :
Hb : 14-18 gr/dL
Albumin : 3,5-5,5 gr/dL
Protein total : 6,0-8,0 gr/dL




·         Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang



·         Perkusi (menepuk-nepuk) dada







·         Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya


















·        Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan




·        Auskultasi bunyi usus. Observasi/ palpasi distensi abdomen.





















·        Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering atau makanan yang nenarik untuk pasien.



·         Berbaring pada posisi yang sehat akan akan menciptakan kenyamanan pasien


·         Perkusi akan mengencerkan dahak





·         Melaui bronkoscopy akan bisa melihat penyumatan ( obstruksi jalan nafas

















·         Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini.




·        Bunyi usus mungkin menurun/ tak ada bila proses infeksi berat/ memanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI.

·        Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.





3.4  catatan perkembangan



















BAB IV
PENUTUP

2.2      KESIMPULAN
            Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
            Penyebab dari atelektasis bisa bersifat obstruktif maupun non-obstruktif. Penyebab obstruktif bisa berasal dari dalam saluran pernafasan maupun dari luar saluran pernafasan. Sedangkan penyebab non-obstruktif bisa disebabkan oleh adanya kompresi jaringan paru atau pengembangan alveoli yang tidak sempurna dan akhirnya mengalami kolaps.
            Diagnosa atelektasis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik. Secara radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus.

4.2 SARAN
            Atelektasis merupakan penyakit yang harus ditangani dengan cepat dan tepat karena sebagian angka mortalitas dari penyakit gangguan pola nafas adalah penyakit atelektasis. Penanganan yang baik dan pendiagnosaan yang tepat akan memberikan ketepatan dalam pencegahan penyakit ini.




DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddart. 1994. Keperawatan Medikal Bedah I, edisi 8, Vol. 1.  EGC : Jakarta.
Doenges Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3 . EGC : Jakarta.
Dorlan W.A. Nawman. 2002. Kamus Kedokteran Darkin. Edisi 29. EGC : jakarta.
Junadi Purnawan, dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. FKUI : Jakarta.
Mansjoer Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. FKUI : Jakarta.
Ramli Ahmad, dkk. 2000. Kamus Kedokteran. Djambatan : Jakarta.
Hamsafir, Evan. 2010. Diagnosis dan Penatalaksanaan pada Atelektasis. Available from : www.infokedokteran.com. Accessed 08 April 2011.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar